Anggapmu aku apa?
Tempatmu melandas untuk menyapa awan?
daramu yang kau pikir bisa melukis Arsy?
Tempatmu bertolak demi hujan yg menjanjikan pelangi?
Aku tak pernah punya angan
aku tak pernah menanam harap
aku tak pernah.
Bahkan untuk memejamkan mata demi mimpi pun aku tidak.
Cukup kamu dengan kilau janjimu
dengan taburan mutiara kasih
memang tak membuat detak
memang tak berdesir kuat
tapi cukup untuk membuat paham,
menjdi setitik celah untuk jiwaku
sedikit memerahkan rautku
kini,
kamu baru tersadar
langit lain lebih luas tuk kamu dekap
dengan ruas pelangi d setiap kakinya
kenapa kamu menyapa langitku?
Terbang dengan pongah,
anggun memeluk bintangku
kenapa?
Bila sekarang kau menukik manja
melayang pada mega yg tak kupunya?
Cukup. Sejak awal aku tak mau.
Dan seharusnya kamu tahu,
ini menyesakkan.
Meski aku tak berharap,
aku kecewa. Sangat.
Read More......
Mungkin saja aku tak ingat,
Ada gemerisik rindu di patahan ranting hatiku
Cerita tanpa kata yang kubuat
Untuk sayap yang mengangkasa pergi
Yang jelas,
Aku menatap senyap
Tak merasa, tak meraba,
Hanya tertawa, dedaunan tua yang lama mengering
Bantaran hati yang lama t'lah landai
Hanya bersenandung kecil,
Membisukan nada-nada hampa
Yang meti tercekik dalam sebuah kesepian
Hanya menikmati semua
Mengaliri kembali mataku yang tak lagi basah
Mungkin,
Sudah cukup bagiku semua gelap
Hingga kelam pun jera tuk bersama.
……..
………
Epilog ini,
Buktikah akan muakku?
Rasanya senyap pun lamat-lamat akan lari dariku..
Read More......
aku punya apa selain hati? yang bahkan diremehkan-seringkali diragukan. aku tahu dari tawa mereka yang menghinakan, dari ledekan mereka yang memekakkan telinga. aku perempuan tak berhati, begitu kata mereka. yang benar saja? aku merasa terluka. bukankah itu bukti betapa hatiku tak sekeras yang mereka katakan? apakah karena tak pernah ku tersipu, karena tak jarang aku gusar akan manis mereka? Aku rasa – sudah seharusnya kita (wanita dan laki-laki) saling menjaga diri. Kadang aku dibuat kecewa oleh (maaf) ikhwan – lelaki yang kuanggap sudah bisa dan paham akan pentingnya menjaga hati. tanpa bermaksud menganggap keji perbuatan mereka yang menggoda akhwat, meski aku sebetulnya menyayangkan. Tidakkah mereka mengerti? Betapa muslimah adalah tetap seorang wanita, yang akan tersipu jika dipuji, yang akan tersentuh dengan perilaku yang dibuat menawan (maaf, jika kesannya menuduh.hehe..).
Tanpa berniat memprovokasi, aku rasa kita harus renungkan bersama. Seorang ikhwan kadang aku dengar menggoda akhwat dengan kalimat yang dibuat se-islami mungkin, " tahu gak, Aisyah ra juga seperti kamu lho, emosional." Aku dibuat terhenyak mendengarnya. Ya Rabb… sungguh tak terkatakan lagi bagaimana malunya. Tak jarang ada yang berjanji, "Ukh, saya akan khitbah setelah lulus SMA".
Ya ampun..kesannya memaksakan sekali. Duh, ikhwan.. kenapa kalian tega meracuni kami? (maaf, ya.hehe..) kami punya hati yang sama-sama mudah ternodai, meski kami upayakan banyak hal untuk mencegahnya. Di sini, aku cuma sedikit berbagi, semoga apat menjadi bahan muhasabah untuk kita semua.(NNS)
Nurma_Sawiyya
Read More......