Bukan tentang siapa yang menengadah menatang matari,
Bukan tentang siapa yang mengerdil di sudut hari,
Bukan tentang imaji yang lari dari tengah-tengah hingar bingar, remah lelah,
atau serpihan fokus yang tak utuh lagi
Hanya saja rasanya terlalu pongah,
Untuk menyimbolkan detak gemilang dari satu sudut mata saja
Atau dari geletar-geletar bangga untuk kemenangan sepersekian detik
Hitungan tik tak masih lama berlanjut
Berlari saja.....
Asa itu beranjak pelan
Engkau, aku, mereka,
Tak ada yang berbinar biru tanpa memerah terlebih dahulu
Berlari saja...
gedung aula, lecturing psikologi kepribadian 2, 2 Mei 2012
Ketika mendengar kata ukhuwah, rasanya nyaman, tergambar ikatan yang kokoh yang bukan hanya berlandaskan kesamaan karakter, atau kesamaan hobi, namun ikatan yang betul-betul bernilai akidah. Maka tak ada lagi hina untuk setiap cela yang dimiliki saudara, yang ada hanyalah do’a dan toleransi tanpa batas untuk setiap karakternya yang bergesekan dengan kita. Tak ada diam untuk setiap kesalahan yang alpa diperbuatnya, yang ada hanyalah kasih sayang untuk meraih tangannya agar tetap erat menggenggam taliNya. Tak ada acuh untuk setiap kering yang merontangkan jiwanya, yang ada hanyalah limpahan hikmah untuk setiap pertemuan. Tak ada jiwa yang mati di tengah ikatan ini, yang ada hanyalah kekokohan yang menghidupkan setiap jiwa yang berpegang. Tak ada yang ditinggalkan, pun tak ada yang meninggalkan.
Dan aku menangis untuk setiap kedok yang ditampakkan seperti ukhuwah, namun hanyalah sebatas lelucon belaka. Tampak seperti ukhuwah namun setiap jiwa di dalamnya mati, bukan karena tak tahan, tapi karena tak ada seorangpun yang mempertahankannya untuk tetap hidup. Tampak seperti ukhuwah namun setiap celah adalah fitnah yang membutakan, tampak cemerlang tapi sebenarnya legam.
Dan aku membenci mereka, yang mengatasnamakan ukhuwah untuk setiap kata manis yang terlontar begitu saja, untuk setiap pertemuan yang tak beranjak dari degup gelisah, atau dari nasihat yang dirangkai seolah bermakna.
Ada yang bergelak tawa;
mendewakan lelaki tak berjubah,
yang begitu ringkih menyematkan bunga-bunga palsu di jemari,
yang menasbihkan derap-derap jantung untuk mati,
yang sibuk mengais benih sampah yang dia bilang cinta,
yang tak sungkan merusak dengan membabi buta.
Kau mau aku diam?
Tidak bisa, sayang....
Didih ini tak boleh menguap begitu saja..
Ada yang tersipu mengulum malu, bahagia;
menyanjung lelaki berjubah sutera,
yang melantunkan stanza Rumi tanpa punya muka,
yang menjanjikanmu terbang menuju sidratul muntaha,
meminang dalam doa-doa semu yang bertebaran di pesan masukmu,
yang berencana menyemai mimpi-mimpi biru sebelum ia tiba di pelaminanmu,
yang dengan lugunya mengatakan akan mempersiapkan diri selama bertahun-tahun.
Kau mau aku terlonjak gembira mendengarnya?
Tidak akan, sayang...
Didih ini tidak boleh menguap begitu saja..
Bukan tentang mengeluarkan keberhargaan di mulutmu,
Bukan tentang menaburkan begitu saja remah kebaikan,
Bukan tentang lelah yang mengering saat masa penghabisan tilawah,
Bukan tentang pena yang menuliskan kalam cahaya,
Bukan tentang keterasingan yang tidak terjembatani antara kau dengan dunia,
Ketika daun terakhir kehidupanku gugur dan detak waktu berhenti di ujung nafasku... bagaimana bisa aku membayangkan suatu hal yang terlalu rumit seperti itu? Kematian, bukan soal meninggalkan, bukan soal pembebasan, bukan sekadar itu.
Rasanya banyak bintang yang tak sempat kuraih, ceceran benih yang terabai karena ringkih - banyak hal berharga yang terlewat begitu saja, kesempatan yang dibiarkan terisi hal-hal tak perlu, dan ketika tiba masanya perjanjianku dengan Kekasih Abadi ditepati, sungguh, bagaimana aku sanggup bertemu denganNya sedang selama ini cintaku tak sekalipun teruji?
Aku yang mengaku mencintaiNya, menunda setiap kali Dia memanggil, mendustai nikmat yang terlampau banyak untuk dihinggai, menorehkan perih di hati orang-orang yang kucintai..
Jika esok tak ada lagi... Aku akan sangat iri pada embun pagi yang bertasbih di penghujung shubuh, yang menguap bersama dzikir khusuknya..
Jika esok tak ada lagi.... Aku akan begitu cemburu pada kerikil di tepian jalan yang diam memaknai ceritaNya sepanjang hari..
Jika esok tak ada lagi... Rasa iri ini, kecemburuan ini tak berarti!!! Aku tak boleh kalah. sebelum batas itu sampai padaku, aku akan memberi arti pada setiap hal yang aku lakukan, memaknai setiap langkah yang kubuat, menepati perjanjianku denganNya...
" Sebuah surat wasiat di waktu acara up grading Taman Ilmu UNPAD"
".... Dan maukah kamu mendapat ganti yang lebih buruk dari yang Allah janjikan kepadamu?"
Aku masih mengingat terjemahan dari surat Al Baqarah ayat 61 itu. Dan ini sama sekali bukan puisi, hanya sebuah kesadaran yang meluap untuk malam-malam panjang yang menggelisahkan.
tak bisa aku biarkan aku terbang dengan sayap 'jika'
sedang langit hijauku mungkin saja bukan dia
mungkin saja anak kunci dari pintu kesempurnaanku bukan dia
maka tak sepantasnya aku mendamba langit yang bukan tempatku
Bagaimana mungkin kupaksakan pintuku untuk terbuka?
Bukankah ini pengkhianatan?
sebab langit hijauku yang megah terabaikan
Aku ingin berhenti dari ini.
Ya Rabb.. izinkan aku berharap pada apa yang Engkau tentukan
Ya Rabb.. inikah yang dinamakan kororan hati?
aku meneguk racun dalam setiap iringan ekor mataku
dalam anggur hitam yang tak membiarkan tuannya berhenti
dari taruhan jiwa