Bismillah...
Bagi yang menjenguk pagi dan meretas senja, lafalkan ini sejenak saja:
Meminang cahaya shubuh,
menangkap sinar emas di gemawan,
adakah beda
dengan melepas rimbun di pematangan hari gelap,
atau merelakan jingga memerah, ditelan pekat kemudian?
Pagi mungkin membuatmu lalai,
menengadah untuk menyingkapi geletar mahaNYA,
atau senja membuatmu putus asa, mengais sisa cahaya bernafas gemintang.
Pada keduanya, ujian itu ada. Berbahagialah.
Kau akan diuji dengan keduanya,
sambutlah.
Karena kau berharga, saudaraku...
Dan Allah menyayangimu.
Ciseke, 29 September 2011.
Read More......
Taman Rahasia kita
(30 November 2009)
Kita pasti menuai rindu
Di taman rahasia yang dijejalkan
Pada rumah tua singgahan kita
Di hentian waktu pada semenanjung penat kita
Di taman ini,
Masa tak punya peranan apa-apa
Kau semuda yang kau bayangkan
Aku tetap menjadi remaja seperti yang kuinginkan
Petikan galau, gumaman resah
Dan kita kembali bertemu
Menguak bintang mati
Merenda pita pagi yang terselip di awal hari
Karena kita abadi di ujung jemari kita – dengan kata
Karena kita akan selalu menjadi muda – dengan kata
Karena taman ini bercerita tentang puisi cinta
( Untuk para pecinta kata)
“ tetaplah menari dengan anggunnya goresan pena,
Dengan suara klik setiap kau tekan tombol keyboard.
Dengan semua rasa yang kau punya..”
Read More......
Aku hanya punya jemari, yang tak bisa menggapai malam,
aku hanya punya jemari, yang tak bisa menepis duka
aku hanya punya jemari, yang tak bisa mendekap jarak
meski kurentang kedua tangan,
yang ada hanya angin di selasar tepi
ah...
akhirnya yang kubisa hanya ini,
dengan kacamata tergantung
menekan, menggeser kursor
dengan tangan menekan hamparan keyboard
kupikir ini bisa
jadi peretas semua jarak.
kupikir, tapi entahlah.
Sahabat, tak ada yang bisa aku kurbankan
mungkinkah ini akan bernilai?
semoga...
Read More......