aku dan sepenggal bait hidupku...

Berlepaslah!

Diam.
Degup itu mungkin saja kau telan...
Aku memang tak tahu,
dan kurasa tak perlu tahu.

Gumam yang terlepas setiap kali bermunajat,
bening yang meleleh untuk penghibaan,
apapun itu,
masihkah terselip merah bernoda?
Aku juga tak tahu.

Mengapa sulit?
Padahal begitu sederhananya untuk terpikat
pada deraian hijaiyah...

Berlepaslah!
Sebab waktu yang terbangkitkan karenaku
tak akan pernah memberi sehela nafas untuk menghidupkanmu,
tak akan mampu menjaga detak segar di dada kirimu,
atau meregangkan lelah di penghujung senja yang merenda.

Berlepaslah!
Aku ini seserpih ilalang di penghabisan..
Bagaimana hamparan jagat tak juga kau hiraukan?

"Berlepaslah!"


Jatinangor. 10 April 2011

Read More......

Pohon (di) Tepian Hati

Bukan usai, aku menahan rindang di tepian hati
reranting mungkin telah patah,
kawanan daun menjingga lalu terbang mengelana
dan batang pun menolak tuk tetap kokoh, menghadang badai
kukira usai. Selesai.
Namun henti itu tidak bersarang pada akar
tumbuh menjadi lebih menyakitkan..

Ah...padahal kubilang tak tersisa
Salah, bodoh!
Harusnya bersegera kukoyak resah yang mengakar,
lalu tanahku kutebar bibit keagungan
biar ranum senja gelisah melihat buahnya,
dan angin nakal tak lagi mempermainkan keanggunannya..



Jatinangor, 26 Februari 2011
diksiku (masih) bermasalah..

Read More......

Serpih Kenangan


Seperti sebuah spiral, aku terus menerus berjalan di tempatku. Entah bagaimana. Aku sekarang tertawa saja, membayangkan malam-malam yang basah oleh air mata. Sungguh luar biasa, hal yang belum pasti apa namanya membuatku begitu sesak dan sulit bernafas. Tertawa saja, mengingat hari-hari yang kuhabiskan dengan tersenyum riang karena hal-hal kecil yang tak semua orang menganggapnya berharga. Apa ini bernama? Aku tidak tahu.

Aku mengingat semuanya, aku menyimpan seluruh detail kenangan dalam frasa-frasa singkat di hati. Apa yang bertebaran di langitku? Banyak. 

Serutan hijau kecil…

Cangkir putih mungil..

Sebotol besar air mineral…

Buah pinus..

…………..
………….
………….

Apa ini bernama? Aku tidak tahu. Hanya ingin menunggu, sampai tawaku benar-benar genap untuk menganggapnya cukup bodoh. Menunggu saat yang tepat untuk membebaskan jiwaku dan berkata, “ Selamat Tinggal….”

Read More......