
Waktu berlalu dengan detak yang tersendat, entah apakah karena tarikan nafasku memberat ataukah gemintang di ufuk barat meredup letih menggenggam hatiku? Lama sekali tak sendiri menyusur rangkaian alfabet di tombol-tombol hitam yang berderet rapi. Lama sekali, tak mengisi imaji dengan menguas tinggi-tinggi warna metalik langit. Sangat lama. Dan jernih itu menguap di ujung jemariku. Semuanya menjadi terlalu sulit untuk kugenggam bersama bait. Segalanya terlalu berat untuk kurangkai di tiap tarikan pena.
Aku mati. Imajiku menghilang terpapar kesal; kesal akan jemu yang mengiringi hati, kesal akan kelunya jari untuk menari, kesal untuk lubang hitam yang masih saja menganga di hati. Apakah ini masih diriku? Apakah jemari ini masih mampu bercengkrama riang di sudut kosong? Apakah nafas berrima itu hilang begitu saja? larikan saja aku. Larikan saja aku dari ketergagapan membingkai frasa, larikan aku dari larik-larik kosong yang menjejak di hamparan. Larikan aku!!!! Sebelum aku benar-benar mati.
Angin mungkin tak lagi bersenandung Claire de Lune buatku. Kunang mungkin tak lagi berpijar bintang di mataku. Malam mungkin tak lagi berjubah di bayangku. Ah... larikan aku dari sini. Sebelum aku benar-benar mati.
Jatinangor, 12 Oktober 2011
Read More......
Bismillah...
Bagi yang menjenguk pagi dan meretas senja, lafalkan ini sejenak saja:
Meminang cahaya shubuh,
menangkap sinar emas di gemawan,
adakah beda
dengan melepas rimbun di pematangan hari gelap,
atau merelakan jingga memerah, ditelan pekat kemudian?
Pagi mungkin membuatmu lalai,
menengadah untuk menyingkapi geletar mahaNYA,
atau senja membuatmu putus asa, mengais sisa cahaya bernafas gemintang.
Pada keduanya, ujian itu ada. Berbahagialah.
Kau akan diuji dengan keduanya,
sambutlah.
Karena kau berharga, saudaraku...
Dan Allah menyayangimu.
Ciseke, 29 September 2011.
Read More......
Ada yang bergelak tawa;
mendewakan lelaki tak berjubah,
yang begitu ringkih menyematkan bunga-bunga palsu di jemari,
yang menasbihkan derap-derap jantung untuk mati,
yang sibuk mengais benih sampah yang dia bilang cinta,
yang tak sungkan merusak dengan membabi buta.
Kau mau aku diam?
Tidak bisa, sayang....
Didih ini tak boleh menguap begitu saja..
Ada yang tersipu mengulum malu, bahagia;
menyanjung lelaki berjubah sutera,
yang melantunkan stanza Rumi tanpa punya muka,
yang menjanjikanmu terbang menuju sidratul muntaha,
meminang dalam doa-doa semu yang bertebaran di pesan masukmu,
yang berencana menyemai mimpi-mimpi biru sebelum ia tiba di pelaminanmu,
yang dengan lugunya mengatakan akan mempersiapkan diri selama bertahun-tahun.
Kau mau aku terlonjak gembira mendengarnya?
Tidak akan, sayang...
Didih ini tidak boleh menguap begitu saja..
Read More......