AKSELERASI DINI – tentang mereka dan ARUS
aku dan sepenggal bait hidupku...
Diposting oleh oema | Permalink | 0 komentar
Label: catatan harian
Senja cepat menjadi buram, kawanan jingga berubah pekat, dan kicau
bintang terasa menggemintang. Aku merapatkan jaket hitamku. Angin masih
terus menerus bermain bersama reranting basah. Aku mempercepat langkah,
hanya terdengar denting gantungan kunci yang beradu. Menyesal. Mengapa
tadi aku tidak bersama dengan kumpulan mahasiswa psikologi lain yang
sedang asyik tertawa di beranda masjid ath tholibin. Dan dengan gontai
aku tiba juga di tepian jalan. Ini yang paling aku benci: menyeberang
jalan sendirian. Bukan sekadar sendirian, tapi juga malam hari,
banyaknya motor yang melintas, dan yang penting, aku tidak bisa
menyeberang! Konyol memang.
Setelah komat kamit menenangkan diri, aku melangkah, tapi tertahan,
kilauan cahaya motor itu terlalu banyak. Terlalu cepat juga. Beberapa
menit berlalu, dan aku masih maju-mundur di tempatku. Ketika kembali
mundur....
seseorang tersenggol tas ranselku. Aku menoleh padanya seraya
tersenyum meminta maaf. Lelaki itu balik tersenyum dalam diam. Aku
menekuri lagi jalanan, berpikir, bagaimana dan kapan waktu yang pas
untuk menyeberang. Ketika kilau cahaya hanya terlihat tiga-empat titik,
lelaki itu bergumam, " ya, satu.... Dua.....". Sebelum hitungan ketiga
aku dimintanya untuk ikut menyeberang.
seperti biasa, langkahku kecil dan santai - atau kelewat santai?
Lelaki itu menoleh padaku, "lari!". Aku tertawa, sementara dia sibuk
memberi isyarat dengan tangannya pada pengemudi mobil untuk memperlambat
lajunya.
"santai banget sih?", dia mungkin kesal.
"memangnya harus lari?", aku bertanya balik padanya.
"truk tadi itu lumayan cepet", dia membela dan masih heran dengan langkah ringanku.
"dia punya mata",tandasku.
"bisa aja itu sopir lagi mabok!", suaranya mengeras.
"kecil kemungkinannya."
"tetap saja....", dia tidak puas. Ah, masalah menyeberang saja bisa jadi sebegini repot!
"ya...ya... Maaf. Maaf. Harusnya aku lari tadi", akhirnya aku mengalah. Dia mengomel ringan:
"lagian nyeberang kok kayak penganten... Lama." bukan dengan nada
menyalahkan, atau kesal, terdengar lebih ringan. Aku tertawa pelan
sambil berkali-kali minta maaf.
Dia ikut tertawa. Tampaknya semesta meminjam kemilau gemintang
sekarang. Tak ada siluet apapun di mataku. Hanya ringan suaranya
menggema. Dan lelaki asing itu menoleh,
"aku duluan ya. Lain kali belajarlah menyeberang sendirian."
tawa jenakanya menutup langkah sebelum dia hilang dari pandanganku.
"Ya. Aku mungkin harus belajar, untuk menjadi terbiasa mengayun langkah
lebih ringan, untuk menjadi terbiasa menghitung detik dengan sabar, juga
terbiasa untuk menyapa kesempatan yang jarang datang. Aku harus
belajar."
Wisaya,
Ciseke, 24 April 2012
- it's half fiction! :D
Diposting oleh oema | Permalink | 0 komentar
Label: catatan harian | FlasFic
____________________________________________________________
Masih kubaca pesan itu. berulang-ulang.
mencoba mencari kemungkinan lain.
Aku tidak bodoh, aku suka sekali syair.
Tapi entah kenapa syair ini kubaca tanpa henti.
Bahasanya mudah saja, beberapa larik dicatut dari sebuah lagu
Tapi, aku menatap lama, seolah menemukan sebuah naskah kuno
dalam bahasa sanskrit
Mungkin aku senang, mungkin juga tidak.
Semua hal mengabur, menjernihkan sisi yang lain
namun bagiku ini membingungkan.
Mungkin jarak tak lagi jadi soal
mungkin apa-apa yang penting tak berarti lagi,
tapi tetap saja aneh..
Mungkin ini keajaiban milikNya,
Mungkin....
Mungkin....
----------------------------------------------------------------------
Aku masih menatap susuran huruf di pesan masukku..
Diposting oleh oema | Permalink | 3 komentar
Label: catatan harian
Well, ini hanya catatan seorang gadis tentang dirinya dan kehidupannya. Mungkin suatu saat semua ini akan menjadi kenangan yang tak dapat diukur dengan harga… dia bingung harus memulai dari mana ia mengisahkan hidupnya. Ingatannya tidak buruk tapi butuh waktu untuk merangkai semuanya menjadi suatu kisah dengan utuh.
CATATAN kecil Milikku
Tampaknya benar bahwa remaja begitu pedulI dengan apa yang dinamakan self image dan menganggap dirinya unik dan istimewa. Itu lah yang aku alami di awal masa remajaku. Sekitar usia 13 hingga 16 tahun aku merasa bahwa diriku tidak ada duanya, aku istimewa. Masih kuingat kepercayaan diriku untuk ikut klub melukis karena aku terbiasa menggambar sejak TK dan beberapa kali gambarku termasuk dalam jejeran gambaar-gambar dalam pemeran sekolah di sekolah menengah pertama. Masih kuingat jelas masa keemasanku saat aku begitu ingin diakui. Keegoisan. Ambisi. Hidupku pernah penuh dengan keduanya. Namun kemudian aku mulai merasa lelah untuk itu, lelah untuk selalu menunjukkan citra diriku. Bukan karena aku tak lagi punya motivasi, tapi terkadang ambisi membuatku tertekan dan hampir mati tercekik karena sesaknya. Aku pernah dilanda stress berkepanjangan karena nilaiku tidak sebesar yang aku inginkan, aku pernah mengurung diri karena kegagalanku untuk mempertahankan gelar juara umum yang pernah kusandang, aku pernah mengisolasi diriku dari orang lain saat tahu aku tidak memenangkan suatu kompetisi. Ya, itulah aku. Aku tidak bisa bersiap untuk kalah.
16 tahun aku lewati, selanjutnya setelah semua hal yang membuatku pernah begitu terluka dengan kekalahan. Diriku yang baru tengah kubentuk. Masa awal SMA, aku bertemu dengan orang-orang baru. Lingkungan baru. Kenyataan baru yang membuka mata lebih lebar. Rasa istimewa itu berangsur-angsur menghilang, sebaliknya aku merasa orang lain begitu istimewa. entah apa orang lain pernah menganggapku istimewa seperti saat aku menatap mereka? Aku tak jarang bertanya apa yang mereka lihat dariku? Dan memang keinginan untuk mempertahankan eksistensi itu belum hilang sepenuhnya. Kegelisahan yang ada karena kekhawatiranku akan arti diriku. Ketakutan dipandang sebelah mata. Bagaimana pun aku butuh pengakuan. Konyol memang. Mungkin karena aku belum dewasa di usia yang ke-17 ini. Masih banyak pertanyaanku yang tak kudapat juga jawabnya. Tentang segalanya.
Beberapa kebenaran kutemukan dan pertanyaan yang baru selalu bermunculan. Setiap tanyaku terjawab,pertanyaan lain datang. Semakin ku ketahui, semakin aku tidak mengerti. Aku mengetahui bahwa ada batasan bagi pergaulan. Ada batasan bagi kami tuk saling berinteraksi, karenanya aku akhirnya memutuskan untuk tidak akan lagi berbuat apa yang selama ini dikenal sebagai trend pacaran. Awalnya sangat berat, terlebih aku saat itu sedang mengikuti trend tersebut. Aku sulit untuk mengatakannya. terbayang di benakku bagaimana mungkin aku sanggup memutuskan ini? Bagaimana harus aku berkata agar dampak yang timbul bukan lah suatu permusuhan? Bagaimana aku dapat bersikap tegas untuk ini? Tapi segalanya berjalan dengan kemudahanNya. Setelah beberapa kali berkirim pesan singkat, kunyatakan niatku dan pihak yang bersangkutan dapat mengerti meski aku belum bisa meyakinkannya bahwa itu lah keputusan terbaik.
Aku tidak mungkin melupakan itu seumur hidupku. Hal yang membuatku malu seolah aku adalah terdakwa. Bagaimana bisa dulu aku begitu bangga dengan status yang tidak berarti itu? bagaimana bisa aku begitu bangga dengan kesesatan itu? bagaimana bisa aku mengacuhkan harga diriku untuk itu? teringat, dulu aku pernah menangis karena lepas darinya. Segalanya tetap meninggalkan bekas yang jelas. Aku malu. Sangat. Membicarakannya membuatku seolah berada dalam jelaga dengan sekelilingku gumpalan awan. Saat sahabat-sahabatku berkata bahwa orang yang menjalani tren itu adalah seperti kue yang dijajakan tanpa plastic, dan tak tertata dalam etalase. Semua orang dapat menjamahnya tanpa dibeli. Aku sangat malu. Sungguh dulu aku pernah menjalani tren itu meski demi Allah aku tidak pernah membiarkan seorang lelaki pun berbuat tak sopan padaku. Walaupun pengertian sopan itu pernah sedikit berbeda dalam pandanganku yang dulu dan saat ini. Dulu, kupikir berpakaian tertutup adalah sopan meski aku tidak mengenakkan kerudung. Dulu, kupikir tak apa jika tangan ini menyentuh siapapun sekalipun itu bukan mahramku. Dulu, kupikir maksiat itu adalah semua hal yang lebih dari sekedar berjabat tangan. Dulu, begitu banyak kesalahanku dalam berpikir.
Kucoba untuk berubah walau tidak semua senang dengan perubahanku. Sahabat-sahabat lelakiku tampak tersinggung saat kukatupkan tanganku saat mereka mencoba untuk berjabat setelah kami lama tidak bertemu, mereka risih denganku, mereka menganggap itu adalah sebuah hinaan bahwa mereka menjijikkan bagiku. Tidak. Tidak ada niatku untuk bersikap seperti itu. keluargaku terlihat tidak senang dengan caraku berpakaian yang mereka bilang sangat merepotkan. Namun lambat laun mereka semua mengerti. Sahabatku tidak memaksaku untuk menjabat mereka lagi meski mereka masih risih terhadapku, padahal aku tetaplah sahabat mereka yang masih bicara cerewet seperti dulu. Keluargaku tidak mempersoalkan cara berpakaianku lagi.
"Didedikasikan untuk saudari-saudariku, bagi yang ingin dan tengah berubah..."
Diposting oleh oema | Permalink | 0 komentar
Label: catatan harian
Revolusi Syawal 1430 H
Dalam kepergian Ramadhan yang malu-malu, diantara bisingnya gelak tawa perayaannya, rencana baru t’lah kususun. Entah semacam revolusi kecil-kecilan tentang hidupku atau mungkin perombakan kecil dan penambahan program baru bagi perangkat yang merakit masa depanku, akal. Mungkin aku terlalu sibuk dengan prasangka-prasangka yang muncul, hingga selama ini yang kulakukan adalah menunggu. Banyak sekali penantian yang membuatku menghabiskan banyak waktu, tapi tetap saja - menurutku menunggu itu adalah bagian dari sebuah rencanaku. Banyak hal yang bisa kulakukan dalam masa penantianku, banyak yang bisa aku kerjakan, dan aku banyak belajar menilai positif setiap detakan waktu yang mengulur – membuatku menunggu lebih lama.
Satu hal saja. Sederhana, tapi cukup membuatku berpikir lebih, lebih dan lebih lagi. Satu hal, bahwa tak peduli apapun yang tengah kulakukan, entah bertahan atau melakukan langkah kecil, selalu ada hal baik yang terjadi. Selalu ada – jika kita mau melihatnya. Bertahan, menunggu keadaan, tidak buruk juga, aku belajar dari kondisi yang paling tidak memungkinkan, peluang itu ada. Langkah kecil yang kutebar, akulah yang menentukan – tak ada siapapun yang sanggup melarang atau mencaciku. Aku manusia bebas yang berperilaku terhormat! Mundur, sebuah langkah ancang-ancang untuk melesat ke depan. Jadi, kenapa tidak? Hal baik itu ada di setiap cela, di setiap cibir, di setiap tawa, di setiap segala.
Prasangka, hal kecil tapi dapat ,mengubah segalanya – aku pikir begitu. Jadi, kuputuskan, revolusi awal yang harus kulakukan adalah melihat semua yang terjadi secara positif, yang pada saatnya nanti akan membantuku berperilaku positif. Semoga.
Diposting oleh oema | Permalink | 0 komentar
Label: catatan harian