Senyum yang mengalir di atas darahku pagi ini,
Tak kah kau rasakan kelamnya?
Dalam diam yang menggeliat marah dalam nyawa kita
Kau tahu, bukan?
Pintu itu sebentar lagi terbuka buat kita...
Tutup matamu jika itu lebih kau suka
dan mungkin saja pipi-pipi basah ini tak lagi kelihatan memerah
Koyak mana yang masih kau simpan, sahabat?
Tak berarti nanah yang mengering itu terlupa, kau bilang
Balut hitamku hari ini
Pemakaman kita tak juga usai
Karangan bunga mawar tak punya kuasa
Apakah kematian kita berlangsung khidmat, sayang?
Kesakitan masih mengecup kejam..
Read More......
Jika kamu bertanya,
sehebat apakah kamu di mataku?
bagaimana bisa aku menjelaskan
sedang matamu saja memberikan lautan tanya
buatku mencari jawab
jika kamu bertanya,
seberharga apa kamu di mataku?
bagaimana bisa aku menilai,
sedang badaiku yang mengamuk semalaman
bisa menjadi bgitu meneduhkan saat kamu di sisi
Jika kamu bertanya,
tentang artimu padaku
sama saja dengan mempertanyakan
sang camar yang bersahabat dengan cakrawala
kenapa?
apa?
bagaimana?
aku hanya dapat menggeleng
dalam bingungku
cukupkan tanyamu, dan percayalah.
aku memang ada tanpa sayap
aku memang ada dengan dua tangan
tapi itu cukup untuk merengkuhmu, sahabat...
Read More......
Kuat itu...
Apakah tak menangis?
Apakah tak butuh manusia lain?
Apakah mendekap badai
dan menelan bulat-bulat kesedihan?
Lemahkah?
Jika hanya dengan tampikan halus
getar itu menyergap,
menghantamku?
Lemahkah?
Jika tawaku hilang
terbenam semua keresahan
menungguku tenggelam,
sesak dalam rawa suram?
Aku mungkin bisa lepas,
aku mungkin bisa tertawa tnpa beban,
tapi tidak jika kamu
berkubang dalam kesendirian
tapi tidak,
jika kamu menatap kosong padaku.
Aku akan kuat demi diriku,
tapi tidak jika kamu menyongsong gelap
tak masalah,
aku mudah untuk terluka
tapi aku juga mudah untuk pulih.
Aku mudah menangis,
tapi juga tak sulit bagiku tuk tertawa
tak masalah,
tapi tidak jika kamu yg bgitu..
Tak masalah,
apa yang terjadi padaku
tapi tidak, jika menimpa sahabatku..
Karena,
aku si lemah yang kuat
juga si kuat yang lemah
Read More......
Kita dekat,
membuat iri dunia
dan kedekatan itu
menjanjikn ujian yang tak mudah
kita dekat,
meyakinkan banyak orang
bahwa teman sejati bukan hanya sekadar ilusi
kedekatan itu pula yangg menciptakan
bayang hitam,
menyodorkan gelapnya ketidakpercayaan
kita dekat,
dan pengujian kita tak kalah merapat
jangan katakan
yang selama ini hanya imaji
kita nyata, kamu tak berbeda
bukankah kita di dunia yang sama?
Dan jika banyak hal
memaksa kita tuk menyerah,
genggam tanganku
atau aku yg akan meraihmu
'lewat banyak cara'
ya, benar
aku kikuk dan menahan kasih sayang
hei, bukankah seseorang berteman
karena melihat dirinya pada orang lain?
katamu, sok tahu?
tapi, kita bisa akui
mungkin itu tidak salah.
(terinspirasi perkataan Ibn Qayyim..)
Read More......
Jika kamu bertanya,
sehebat apakah kamu di mataku?
bagaimana bisa aku menjelaskan
sedang matamu saja memberikan lautan tanya
buatku mencari jawab
jika kamu bertanya,
seberharga apa kamu di mataku?
bagaimana bisa aku menilai,
sedang badaiku yang mengamuk semalaman
bisa menjadi bgitu meneduhkan saat kamu di sisi
Jika kamu bertanya,
tentang artimu padaku
sama saja dengan mempertanyakan
sang camar yang bersahabat dengan cakrawala
kenapa?
apa?
bagaimana?
aku hanya dapat menggeleng
dalam bingungku
cukupkan tanyamu, dan percayalah.
aku memang ada tanpa sayap
aku memang ada dengan dua tangan
tapi itu cukup untuk merengkuhmu, sahabat...
Read More......
Tak inginku melanjutkan eksodusku
tanpa mreka yg sejak awal
brdiri d samping,
membuatku yakin dan brsiap diri
setelah 4 thun pengembraan,
mreka tak juga brubah,
aku tetap menyayangi mereka dgn caraku..
Meski tak juga condong mereka pada kataku
meski keterasingan mengintip malu-malu
dalam setiap pertemuan..
Aku menyayangi mereka dengan caraku,
meski orang-orang putih itu melarang,
bagiku kepergianku adalah pengkhianatan..
Mereka bersamaku, dan akan tetap bgtu
aku menyayangi mereka dgn caraku,
walau hujatan ada bagiku
yang dikatakan tak juga brhenti brmaksiat..
Aku tetap tinggal
dan tak brniat lepas..
Aku menyayangi mereka dgn caraku,
karenanya, kan kubagi lilin kecilku
memang tak seterang lentera
tapi aku akan brusaha,
aku menyayangi mereka dgn caraku,
maka izinkan aku ada..
Jangan hujat aku, wahai manusia yg dianugerahi cahaya!
Ini caraku. Misiku.
Tuhanku yg brkuasa atas stiap kalbu,
syukurku atas saudari yg pandai mengingatkan
dan mudah diingatkan..
Ketetapan itu, pertahankan lah..
Wahai Dzat yg daripadaNya ruhku ditiupkan,
beri aku cinta yg hidup bagi mereka..
Sungguh, hingga akhir,
biarkn aku mencintai mereka dengan caraku...
Maka, condongkanlah hati mereka
pada apa yg menjadi Haq
lilin kecil ini 'kan menjadi obor yg brkobar dgn kuasaMu..
Aku menyayangi mereka dengan caraku...
' bagi saudara-saudaraku, saudari-saudariku, 4 tahun kbersmaan kita...'
Read More......
Mungkin harus beribu-ribu teguran lagi
agar aku menoleh..
Mungkin mesti ditimpa berton-ton lagi
agar aku memhami diriku..
Mungkin dan selalu saja mungkin
Mengapung ke permukaan pikiran..
Mungkin yang perlu aku lakukan adalah berhenti sejenak
dari kelelahan sangat yang memburuku
berlari ke dekapan ibu, ayah, sahabat
menghangatkan cawan yang kuisi dengan cinta
dan menambahkan sedikit aroma manis
di setiap teguknya,,
dan bila cawan itupun t'lah lelah tuk kuisi?
dekapan yang mendingin di bibir perapian
sementara kayu bakarku t'lah habis?
Tangan siapa lagi yang bisa?
Tuhanku membelaiku lewat mereka
menegaskan setiap kasih dari mereka..
Maka, tangan siapa lagi kini?
yang bersedia menyambutku
yang menghambur ke pelukan
dengan cawan yang hampir kosong?
Tangan siapa lagi kini?
yang dalam rengkuhnya
terdapat mata air jernih
yang daripadanya kulihat bening
meneduhkan...
aku tidak menginginkan anggur,
hanya setiap tetes yang menyejukan
setiap kali kureguk..
dan tidak lebih.
Read More......