aku dan sepenggal bait hidupku...

Pohon (di) Tepian Hati

Bukan usai, aku menahan rindang di tepian hati
reranting mungkin telah patah,
kawanan daun menjingga lalu terbang mengelana
dan batang pun menolak tuk tetap kokoh, menghadang badai
kukira usai. Selesai.
Namun henti itu tidak bersarang pada akar
tumbuh menjadi lebih menyakitkan..

Ah...padahal kubilang tak tersisa
Salah, bodoh!
Harusnya bersegera kukoyak resah yang mengakar,
lalu tanahku kutebar bibit keagungan
biar ranum senja gelisah melihat buahnya,
dan angin nakal tak lagi mempermainkan keanggunannya..



Jatinangor, 26 Februari 2011
diksiku (masih) bermasalah..

Read More......

Serpih Kenangan


Seperti sebuah spiral, aku terus menerus berjalan di tempatku. Entah bagaimana. Aku sekarang tertawa saja, membayangkan malam-malam yang basah oleh air mata. Sungguh luar biasa, hal yang belum pasti apa namanya membuatku begitu sesak dan sulit bernafas. Tertawa saja, mengingat hari-hari yang kuhabiskan dengan tersenyum riang karena hal-hal kecil yang tak semua orang menganggapnya berharga. Apa ini bernama? Aku tidak tahu.

Aku mengingat semuanya, aku menyimpan seluruh detail kenangan dalam frasa-frasa singkat di hati. Apa yang bertebaran di langitku? Banyak. 

Serutan hijau kecil…

Cangkir putih mungil..

Sebotol besar air mineral…

Buah pinus..

…………..
………….
………….

Apa ini bernama? Aku tidak tahu. Hanya ingin menunggu, sampai tawaku benar-benar genap untuk menganggapnya cukup bodoh. Menunggu saat yang tepat untuk membebaskan jiwaku dan berkata, “ Selamat Tinggal….”

Read More......

Jika Esok Tak Ada

Ketika daun terakhir kehidupanku gugur dan detak waktu berhenti di ujung nafasku... bagaimana bisa aku membayangkan suatu hal yang terlalu rumit seperti itu? Kematian, bukan soal meninggalkan, bukan soal pembebasan, bukan sekadar itu.

Rasanya banyak bintang yang tak sempat kuraih, ceceran benih yang terabai karena ringkih - banyak hal berharga yang terlewat begitu saja, kesempatan yang dibiarkan terisi hal-hal tak perlu, dan ketika tiba masanya perjanjianku dengan Kekasih Abadi ditepati, sungguh, bagaimana aku sanggup bertemu denganNya sedang selama ini cintaku tak sekalipun teruji?

Aku yang mengaku mencintaiNya, menunda setiap kali Dia memanggil, mendustai nikmat yang terlampau banyak untuk dihinggai, menorehkan perih di hati orang-orang yang kucintai..

Jika esok tak ada lagi... Aku akan sangat iri pada embun pagi yang bertasbih di penghujung shubuh, yang menguap bersama dzikir khusuknya..

Jika esok tak ada lagi.... Aku akan begitu cemburu  pada kerikil di tepian jalan yang diam memaknai ceritaNya sepanjang hari..

Jika esok tak ada lagi... Rasa iri ini, kecemburuan ini tak berarti!!! Aku tak boleh kalah. sebelum batas itu sampai padaku, aku akan memberi arti pada setiap hal yang aku lakukan, memaknai setiap langkah yang kubuat, menepati perjanjianku denganNya...



" Sebuah surat wasiat di waktu acara up grading Taman Ilmu UNPAD"

Read More......