aku dan sepenggal bait hidupku...

(tanpa) nisbi

Apakah masih menisbi batas yang kurentang?
Padahal baitku hitam, 
        sejelas remuk tinta yang bertebar pada nisan. 
Padahal tak ada dentang bimbang 
        pada renyah suara yang tak terlisankan. 
Bungaku tak akan mekar sebelum hujan cahayaku tiba, 
    tak akan. 

Boleh saja menguas warna hijau pada langitku, 
menggores jemari dalam kalamku, 
atau memeta mimpi yang pernah kutahu, 
tapi sudah jelas bagiku: 
          kuncupku masih bertahan. 
Sebab hujan cahaya itu belum datang. 
Jangan menantinya. 


Hei, masih menisbikah jarak yang kurentang? 
Jangan coba melewatinya. 
Aku akan mati.

Somewhere, Juli 15th 2011

Read More......

Bukan, sayang...

Bukan tentang mengeluarkan keberhargaan di mulutmu,
Bukan tentang menaburkan begitu saja remah kebaikan,
Bukan tentang lelah yang mengering saat masa penghabisan tilawah,
Bukan tentang pena yang menuliskan kalam cahaya,
Bukan tentang keterasingan yang tidak terjembatani antara kau dengan dunia,

Bukan, sayang.


June 28th, 2011

Read More......

Berlepaslah!

Diam.
Degup itu mungkin saja kau telan...
Aku memang tak tahu,
dan kurasa tak perlu tahu.

Gumam yang terlepas setiap kali bermunajat,
bening yang meleleh untuk penghibaan,
apapun itu,
masihkah terselip merah bernoda?
Aku juga tak tahu.

Mengapa sulit?
Padahal begitu sederhananya untuk terpikat
pada deraian hijaiyah...

Berlepaslah!
Sebab waktu yang terbangkitkan karenaku
tak akan pernah memberi sehela nafas untuk menghidupkanmu,
tak akan mampu menjaga detak segar di dada kirimu,
atau meregangkan lelah di penghujung senja yang merenda.

Berlepaslah!
Aku ini seserpih ilalang di penghabisan..
Bagaimana hamparan jagat tak juga kau hiraukan?

"Berlepaslah!"


Jatinangor. 10 April 2011

Read More......