aku dan sepenggal bait hidupku...

Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

(tanpa) nisbi

Apakah masih menisbi batas yang kurentang?
Padahal baitku hitam, 
        sejelas remuk tinta yang bertebar pada nisan. 
Padahal tak ada dentang bimbang 
        pada renyah suara yang tak terlisankan. 
Bungaku tak akan mekar sebelum hujan cahayaku tiba, 
    tak akan. 

Boleh saja menguas warna hijau pada langitku, 
menggores jemari dalam kalamku, 
atau memeta mimpi yang pernah kutahu, 
tapi sudah jelas bagiku: 
          kuncupku masih bertahan. 
Sebab hujan cahaya itu belum datang. 
Jangan menantinya. 


Hei, masih menisbikah jarak yang kurentang? 
Jangan coba melewatinya. 
Aku akan mati.

Somewhere, Juli 15th 2011

Read More......

Sajak rindu

Sajakku mulai tumpul,
menumbuk keras tak berperasaan
agaknya aku tak lagi mengkaji
larik pelangi milikmu
aku lupa loncatan imajinasi yang kamu tunjukkan
rasanya, aku harus melarikan remasan kertas
untuk kembali bermimpi
mengangkasa dengan sayap bahasa..

Aku merindukan gesekan pena di secarik kertas buram
aku rindu menulis puisi bintang di hamparan hitam
aku rindu mengeja bait pada rasaku


aku rindu..





"setelah beberapa hari terbungkam, dan aku tak mau terbiasa akan hal itu..."

NNSM.7292. 23022010.

Read More......

Sorry, ik hou van je...

T'lah lama kutanggalkan
jubah embun yg basah pada tiang kokoh penyangga langitku..

Dan mulai kususuri redam
yang merentang di delapan penjuru angkasa
berharap membebaskan bintang yg terjebak d rasi
atau memeluk gemawan yang melayang anggun
tapi hujan menggoda bintang
untuk tetap bersemayam pada selimut abu
tapi hujan merajuk manja pada awan
untuk menarikan simphoni rinai berdua..

Read More......

Rajutan di Saat Malam

Wahai Dania – pemilik kerudung putih berkibar,
Mengapa membasahi dunia dengan luapan amarah?
Sebab kamu mendermakan begitu banyak kebahagiaan
dan membiarkan Tuhan mengirimkan jutaan kesakitan,
lalu kamu menganggap ini ketidak adilan?

Wahai Dania – yang dicintai banyak orang,
Mengapa menusukkan beribu hujatan?
Sebab kamu mencintai limpahan ketulusan
Sedang topeng-topeng itu menyamarkan segala,
Lalu kamu membenci persembunyian manusia – hati ?

Wahai Dania – yang meneguhkan keimanan
Mengapa menuliskan kebencian di sudut-sudut cahaya?
Sebab kamu tak menerbangkan kepakan angan
Sedang angin bersahabat dekat dengan sang pungguk di sarang
Lalu kamu menebar permusuhan?


Sudah cukup, semua kehinaan yang kamu tujukan
Sebab sang pungguk tak hanya tersadarkan
Tak hanya menoleh untuk mencari kecacatan
Tak hanya merasa malu atas kegagalan
Tapi juga terluka dalam..

Read More......

Ini titah bagi pecinta..


Jangan biasakan menaruh mawar
di jendela hati yang kubiarkan terbuka,

Tak perlu mengisi adagioku
dengan rancak lincah senyummu

Usah menungguiku di pintu petang,
dengan secangkir kasih yang hangat..

Aku akan terbiasa untuk menanti di tepi jendela
aku akan terbiasa tenggelam pada rancakmu
aku akan terbiasa mereguk cangkir itu
bahkan jika kau tak sungguh-sungguh..

Sebelum kau tahu kebenaran hatimu,
simpan saja dalam lemari tuamu!
Kau akan berterima kasih padaku untuk nasehat itu..

Read More......

Masih tentang hujan...

Hm... Ini tentang hujan, untuk ke sekian kalinya.

Riak yang membulat pada tepi,
membuyar, melagukan syair keheningan
dan aku membelah pekak ilusi
dengan anyaman air yang menari
sapaan tetes,
membuatku tersadar dari mati

dan ini,
satu lagi yang tertangkap
kala geleparmu menerpa tanah

untuk yang kesekian kalinya,
tentangmu, wahai hujanku

Read More......

Rumah di Sudut Hati


Jejak abu perapian di sisi hati
ayunan sayap peri yang tertinggal di daun jendela
hembusan jam pasir yang mendesis jemu
rumah tinggal apa yang kumasuki?

Kamar-kamar dingin yg tertelan penat
dinding batu yang terpercik darah kumal
darah pembual - di atas tangis pembebasan
cerobong dengan asap hitam memucatkan sang biru
rumah tinggal apa yang kulihat?

Selasar tepi tanpa penahan benci
tangga keangkuhan yg berkeriut ngeri
tanah yg terinjak mendengus marah
ah... Rumah macam apa ini?!

Hai,engkau yang trsenyum dengan pedih
kenapa tak kau perbaiki
rumah kalbu yang kau tempati?

Read More......

Cinta Puisi Cinta



Cinta Puisi Cinta


(29 November 2009)




Bilamana rembulan dapat memeluk bumi

Saat itu ‘kan kuberitakan

Detak pengingat di epilog batin





Bilamana langit membelalak hijau

Aku akan berlari memburu kisah

Yang terlepas tanpa semapat kita mengerti





Jika saja aku mampu,

Desahan angin pun akan malu

Demi mendengar detik yang meledak-ledak di hatiku





Jika saja kamu tahu,

Senja pun ‘kan kalah merona

Dibanding rautku





Tapi cukup aku yang mengerti

Agar dunia tak perlu bersenandung cinta

Agar angin tak usah tersipu

Agar gelombang tak menabuh riuh

Agar pelangi tak mengerang iri



Karena aku miliki yang terindah – di dalam sini







Read More......

dulu, sekarang, apa bedanya?!


itu adalah masaku
masa kecintaanku pada kelabu
yang menggantung di bibir langit..
berlarian ke sela yang tak mungkin
dan tak bisa kuhela..
setiap titik pun meniupkan hidup sebuah imaji..

Imajiku tentang hujanku
imajiku tentang semua kemurahan hati sang langit

aku alpa,
dalam kemurahan itu
ada gelegak marah yang tak bisa dibendung
pijar-pijar tajam yang melumat keras yang mengerak
ada detik detik yang meningkahi langkah siput

berantakan, kacau!
aku benci untuk tidak menyenanginya...
sebab hujanku akan tetap menjadi hujan
yang menyambung nafas dunia
yang tersenyum dalam biduk pelangi
kesemuanya..

Read More......

bagi mawar yang menunggu pemetiknya.. (pun bagi pemetiknya)

Adakah surga dibayar
Dengan sebuah mahkota yang ditukarkan?
Adakah taman itu ditempuh
Hanya dengan kebahagiaan yang dilimpahkan
Atas titah tetua pada seorang yang semula ratu
Untuk menyerahkan putik kecintaanya
Membiarkan pesona-pesona lainnya untuk mekar
Bukan hanya dia sebagai mawar
yang tertanam di ladang pengharapan?

adakah jalan lain?
bagi raja yang ingin memberi bingkisan sempurna
taman dimana sang Adam memohonkan rusuknya, Hawa
adakah penghormatan lain
selain menyerahkan keharuman pinus segar
berbaur dengan keharuman jeruk basah bahkan anggrek liar?

“ yang tak kumengerti dari mereka – para lelaki”
Terinspirasi buku Asma Nadia, Catatan Hati Seorang Istri

Read More......

Dalam secangkir kontradiksi

Aku lupa,
angin yang biasanya datang menjemput bisuku
telah berubah jadi beliung
yang meliuk menampar jiwa kanakku

aku lupa,
di kidung pagiku
tak bersisa embun yang menetes keperakan
tapi siulan cahaya
yang bertalu
diantara guguran daun pohon Willow

aku lupa,
mutiara hati tak hanya berkilau
mengabarkan keanggunan pekerti
tapi juga dapat menggelap pekat
menelan hitam yang tak tembus cahaya

dan aku tidak ingat,
saat tarian pena kumulai,
pedang itu tengah kumainkan...

Pagi ini,
bibir cangkirku retak dalam kontradiksi
yang kubiarkan masuk perlahan
dari teko kebimbangan..
Haruskah kulekatkan?
Atau melepaskan setiap serpihan
yang bisu dalam satuan waktu..

'dalam secangkir kontradiksi..'

Read More......

Cukup satu, tentangmu..

Cukup,
hanya satu dari ribuan stanzaku
yang membedakan syair kerinduan
tentang teman sejati,
seseorang yg darinya lah aku ada

suatu masa,
dia akan menderakkan pintu-pintu bahagia
menyingkirkan bising kegalauan
dan dia menjemputku pada rumah cahaya

hatiku bukan lelah tuk menanti,
cuma getar itu tak juga nampak
tak juga memperlihatkan riak d air tenangku
masih tercukupi semua rinduku,
masih terobati semua resahku,

kemarilah
setelah titian tangga imanku semakin naik,
kemarilah
saat sutera kearifan itu selesai kutenun
kemarilah
setelah selendang azzam ku sempurnakan

dan untuk saat ini,
biar aku siapkan segalany
dalam khayanganku..
Biar waktu menjadi kawan kita
dalam memperbaiki diri
takdirmu, takdirku
sang waktulah penyampai terbaik atas beritanya..

Read More......