(tanpa) nisbi
Hei, masih menisbikah jarak yang kurentang?
Somewhere, Juli 15th 2011
aku dan sepenggal bait hidupku...
Diposting oleh oema | Permalink | 0 komentar
Label: puisi
Sajakku mulai tumpul,
menumbuk keras tak berperasaan
agaknya aku tak lagi mengkaji
larik pelangi milikmu
aku lupa loncatan imajinasi yang kamu tunjukkan
rasanya, aku harus melarikan remasan kertas
untuk kembali bermimpi
mengangkasa dengan sayap bahasa..
Aku merindukan gesekan pena di secarik kertas buram
aku rindu menulis puisi bintang di hamparan hitam
aku rindu mengeja bait pada rasaku
aku rindu..
"setelah beberapa hari terbungkam, dan aku tak mau terbiasa akan hal itu..."
NNSM.7292. 23022010.
Diposting oleh oema | Permalink | 4 komentar
Label: puisi
T'lah lama kutanggalkan
jubah embun yg basah pada tiang kokoh penyangga langitku..
Dan mulai kususuri redam
yang merentang di delapan penjuru angkasa
berharap membebaskan bintang yg terjebak d rasi
atau memeluk gemawan yang melayang anggun
tapi hujan menggoda bintang
untuk tetap bersemayam pada selimut abu
tapi hujan merajuk manja pada awan
untuk menarikan simphoni rinai berdua..
Diposting oleh oema | Permalink | 12 komentar
Label: puisi
Wahai Dania – pemilik kerudung putih berkibar,
Mengapa membasahi dunia dengan luapan amarah?
Sebab kamu mendermakan begitu banyak kebahagiaan
dan membiarkan Tuhan mengirimkan jutaan kesakitan,
lalu kamu menganggap ini ketidak adilan?
Wahai Dania – yang dicintai banyak orang,
Mengapa menusukkan beribu hujatan?
Sebab kamu mencintai limpahan ketulusan
Sedang topeng-topeng itu menyamarkan segala,
Lalu kamu membenci persembunyian manusia – hati ?
Wahai Dania – yang meneguhkan keimanan
Mengapa menuliskan kebencian di sudut-sudut cahaya?
Sebab kamu tak menerbangkan kepakan angan
Sedang angin bersahabat dekat dengan sang pungguk di sarang
Lalu kamu menebar permusuhan?
Sudah cukup, semua kehinaan yang kamu tujukan
Sebab sang pungguk tak hanya tersadarkan
Tak hanya menoleh untuk mencari kecacatan
Tak hanya merasa malu atas kegagalan
Tapi juga terluka dalam..
Diposting oleh oema | Permalink | 7 komentar
Label: puisi
Diposting oleh oema | Permalink | 7 komentar
Label: puisi
Hm... Ini tentang hujan, untuk ke sekian kalinya.
Riak yang membulat pada tepi,
membuyar, melagukan syair keheningan
dan aku membelah pekak ilusi
dengan anyaman air yang menari
sapaan tetes,
membuatku tersadar dari mati
dan ini,
satu lagi yang tertangkap
kala geleparmu menerpa tanah
untuk yang kesekian kalinya,
tentangmu, wahai hujanku
Diposting oleh oema | Permalink | 3 komentar
Label: puisi
Diposting oleh oema | Permalink | 5 komentar
Label: puisi
Diposting oleh oema | Permalink | 6 komentar
Label: puisi
Diposting oleh oema | Permalink | 5 komentar
Label: puisi
Adakah surga dibayar
Dengan sebuah mahkota yang ditukarkan?
Adakah taman itu ditempuh
Hanya dengan kebahagiaan yang dilimpahkan
Atas titah tetua pada seorang yang semula ratu
Untuk menyerahkan putik kecintaanya
Membiarkan pesona-pesona lainnya untuk mekar
Bukan hanya dia sebagai mawar
yang tertanam di ladang pengharapan?
adakah jalan lain?
bagi raja yang ingin memberi bingkisan sempurna
taman dimana sang Adam memohonkan rusuknya, Hawa
adakah penghormatan lain
selain menyerahkan keharuman pinus segar
berbaur dengan keharuman jeruk basah bahkan anggrek liar?
“ yang tak kumengerti dari mereka – para lelaki”
Terinspirasi buku Asma Nadia, Catatan Hati Seorang Istri
Diposting oleh oema | Permalink | 4 komentar
Label: puisi
Aku lupa,
angin yang biasanya datang menjemput bisuku
telah berubah jadi beliung
yang meliuk menampar jiwa kanakku
aku lupa,
di kidung pagiku
tak bersisa embun yang menetes keperakan
tapi siulan cahaya
yang bertalu
diantara guguran daun pohon Willow
aku lupa,
mutiara hati tak hanya berkilau
mengabarkan keanggunan pekerti
tapi juga dapat menggelap pekat
menelan hitam yang tak tembus cahaya
dan aku tidak ingat,
saat tarian pena kumulai,
pedang itu tengah kumainkan...
Pagi ini,
bibir cangkirku retak dalam kontradiksi
yang kubiarkan masuk perlahan
dari teko kebimbangan..
Haruskah kulekatkan?
Atau melepaskan setiap serpihan
yang bisu dalam satuan waktu..
'dalam secangkir kontradiksi..'
Diposting oleh oema | Permalink | 2 komentar
Label: puisi
Cukup,
hanya satu dari ribuan stanzaku
yang membedakan syair kerinduan
tentang teman sejati,
seseorang yg darinya lah aku ada
suatu masa,
dia akan menderakkan pintu-pintu bahagia
menyingkirkan bising kegalauan
dan dia menjemputku pada rumah cahaya
hatiku bukan lelah tuk menanti,
cuma getar itu tak juga nampak
tak juga memperlihatkan riak d air tenangku
masih tercukupi semua rinduku,
masih terobati semua resahku,
kemarilah
setelah titian tangga imanku semakin naik,
kemarilah
saat sutera kearifan itu selesai kutenun
kemarilah
setelah selendang azzam ku sempurnakan
dan untuk saat ini,
biar aku siapkan segalany
dalam khayanganku..
Biar waktu menjadi kawan kita
dalam memperbaiki diri
takdirmu, takdirku
sang waktulah penyampai terbaik atas beritanya..
Diposting oleh oema | Permalink | 7 komentar
Label: puisi